Etika Bisnis dan Kewirausahaan
Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis,
yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan
dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk
nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun
hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang
saham, masyarakat. Perusahaan meyakini prinsip bisnis yang baik adalah bisnis yang
beretika, yakni bisnis dengan kinerja unggul dan berkesinambungan yang
dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan
peraturan yang berlaku. Etika Bisnis dapat menjadi standar dan pedoman bagi seluruh karyawan
termasuk manajemen dan menjadikannya sebagai pedoman untuk melaksanakan
pekerjaan sehari-hari dengan dilandasi moral yang luhur, jujur,
transparan dan sikap yang profesional.
1. Level satu : Tahap Prakonvensional
Pada
tahap pertama, seorang anak dapat merespon peraturan dan ekspektasi
sosial dan dapat menerapkan label-label baik, buruk, benar dan salah.
Tahap
satu : Orientasi Hukuman dan Ketaatan. Pada tahap ini, konsekuensi
fisik sebuah tindakan sepenuhnya ditentukan oleh kebaikan atau keburukan
tindakan itu. Alasan anak untuk melakukan yang baik adalah
untuk menghindari hukuman atau menghormati kekuatan otoritas fisik yang
lebih besar.
Tahap
dua : Orientasi Instrumen dan Relativitas. Pada tahap ini, tindakan
yang benar adalah yang dapat berfungsi sebagai instrument untuk memuaskan
kebutuhan anak itu sendiri atau kebutuhan mereka yang dipedulikan anak
itu
2. Level dua : Tahap Konvensional
Pada
level ini, orang tidak hanya berdamai dengan harapan, tetapi
menunjukkan loyalitasterhadap kelompok beserta norma-normanya. Remaja
pada masa ini, dapat melihat situasidari sudut pandang orang lain, dari
perspektif kelompok sosialnya.
Tahap
Tiga : Orientasi pada Kesesuaian Interpersonal. Pada tahap ini,
melakukan apa yang baik dimotivasi oleh kebutuhan untuk dilihat
sebagaipelaku yang baik dalam pandangannya sendiri dan pandangan orang
lain.
Tahap
Empat : Orientasi pada Hukum dan Keteraturan. Benar dan salah pada
tahap konvensional yang lebih dewasa, kini ditentukan olehloyalitas
terhadap negara atau masyarakat sekitarnya yang lebih besar. Hukum
dipatuhi kecuali tidak sesuai dengan kewajiban sosial lain yang sudah
jelas.
3. Level tiga : Tahap Postkonvensional, Otonom, atau Berprinsip.
Pada
tahap ini, seseorang tidak lagi secara sederhana menerima nilai dan
normakelompoknya. Dia justru berusaha melihat situasi dari sudut pandang
yang secara adilmempertimbangkan kepentingan orang lain. Dia
mempertanyakan hukum dan nilai yangdiadopsi oleh masyarakat dan
mendefinisikan kembali dalam pengertian prinsip moralyang dipilih
sendiri yang dapat dijustifikasi secara rasional. Hukum dan nilai yang
pantasadalah yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang memotivasi orang
yang rasional untukmenjalankannya.
Tahap Lima : Orientasi pada Kontrak Sosial
Tahap
ini, seseorang menjadi sadar bahwa mempunyai beragam pandangan dan
pendapatpersonal yang bertentangan dan menekankan cara yang adil untuk
mencapai consensusdengan kesepahaman, kontrak, dan proses yang matang.
Dia percaya bahwa nilai dannorma bersifat relative, dan terlepas dari
consensus demokratis semuanya diberi toleransi.
Tahap
Enam : Orientasi pada Prinsip Etika yang Universal. Tahap akhir ini,
tindakan yang benar didefinisikan dalam pengertian prinsip moral
yangdipilih karena komprehensivitas, universalitas, dan konsistensi.
Alasan seseorang untukmelakukan apa yang benar berdasarkan pada komitmen
terhadap prinsip-prinsip moraltersebut dan dia melihatnya sebagai
criteria untuk mengevaluasi semua aturan dantatanan moral yang lain.
Aplikasi Standar Moral:
Moralitas adalah pedoman yang dimiliki individu atau kelompok mengenai apa itu benar dan salah, atau baik dan jahat.
Pedoman
moral mencakup norma-norma yang kita miliki mengenai jenis-jenis
tindakanyang kita yakini benar atau salah secara moral, dan nilai-nilai
yang kita terapkan padaobjek-objek yang kita yakini secara moral baik
atau secara moral buruk. Norma moral seperti “selalu katakan kebenaran”,
“membunuh orang tak berdosa itu salah”. Nilai-nilai moral biasanya
diekspresikan sebagai pernyataan yang mendeskripsikan objek-objek
atauciri-ciri objek yang bernilai, semacam “kejujuran itu baik” dan
“ketidak adilan itu buruk”.
Standar
moral pertama kali terserap ketika masa kanak-kanak dari keluarga,
teman,pengaruh kemasyarakatan seperti gereja, sekolah, televisi,
majalah, music dan perkumpulan.
Hakekat standar moral :
1. Standar moral berkaitan dengan persoalan yang kita anggap akan merugikan secara serius atau benar-benar akan menguntungkan manusia.
2. Standar moral tidak dapat ditetapkan atau diubah oleh keputusan dewan otoritatif tertentu.
3. Standar moral harus lebih diutamakan daripada nilai lain termasuk (khususnya) kepentingan diri.
4. Standar moral berdasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak.
5. Standar moral diasosiasikan dengan emosi tertentu dan kosa kata tertentu.
Standar
moral, dengan demikian, merupakan standar yang berkaitan dengan
persoalan yang kita anggap mempunyai konsekuensi serius, didasarkan pada
penalaran yang baik bukan otoritas, melampaui kepentingan diri,
didasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak, dan yang pelanggarannya
diasosiasikan dengan perasaan bersalah dan malu dan dengan emosi dan kosa
kata tertentu.
Tanggung Jawab Moral:
Orang yang memiliki tanggung jawab moral untuk tindakan disebut agen
moral. Agen mampu merefleksikan situasi mereka, membentuk niat tentang
bagaimana mereka akan bertindak, dan kemudian melakukan tindakan itu.
Kehendak bebas merupakan isu penting dalam perdebatan tentang apakah
orang pernah bertanggung jawab moral atas tindakan mereka.
Tanggung jawab moral belum tentu sama dengan tanggung jawab
hukum . Seseorang secara hukum bertanggung jawab untuk sebuah event
ketika itu adalah bahwa orang yang bertanggung jawab akan dihukum dalam
sistem pengadilan untuk sebuah event. Meskipun mungkin sering terjadi
bahwa ketika seseorang secara moral bertanggung jawab atas suatu
tindakan, mereka juga bertanggung jawab secara hukum untuk itu, kedua
negara tidak selalu bertepatan.
Tanggung jawab moral di tempat kerja melindungi pekerja,
pelanggan dan bisnis. Sebuah perusahaan berkomitmen untuk tanggung jawab
moral dan etika yang kuat biasanya lebih kecil kemungkinannya untuk
terlibat dalam praktek bisnis yang teduh, memperlakukan karyawannya
tidak adil atau mengambil keuntungan dari pelanggan. Contoh tanggung
jawab moral di tempat kerja dapat span peristiwa atau keputusan bisnis.
Contoh Pelanggaran Etika Bisnis
- Skandal Enron, Worldcom dan perusahaan-perusahaan besar di AS Worldcom terlibat rekayasa laporan keuangan milyaran dollar AS. Dalam pembukuannya Worldcom mengumumkan laba sebesar USD 3,8 milyar antara Januari 2001 dan Maret 2002. Hal itu bisa terjadi karena rekayasa akuntansi. Penipuan ini telah menenggelamkan kepercayaan investor terhadap korporasi AS dan menyebabkan harga saham dunia menurun serentak di akhir Juni 2002. Dalam perkembangannya, Scott Sullifan (CFO) dituduh telah melakukan tindakan kriminal di bidang keuangan dengan kemungkinan hukuman 10 tahun penjara. Pada saat itu, para investor memilih untuk menghentikan atau mengurangi aktivitasnya di bursa saham.
- Kasus Tylenol Johnson & Johnson Kasus penarikan Tylenol oleh Johnson & Johnson dapat dilihat sebagai bagian dari etika perusahaan yang menjunjung tinggi keselamatan konsumen di atas segalanga, termasuk keuntungan perusahaan. Johnson & Johnson segera mengambil tindakan intuk mengatasi masalahnya. Dengan bertindak cepat dan melindungi kepentingan konsumennya, berarti perusahaan telah menjaga trustnya.
sumber:
- http://www.ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2798%3Aetika-bisnis&catid=50%3Ahukum-dan-etika-bisnis&Itemid=78
- http://www.ilerning.com/index.php?option=com_content&view=article&id=2798%3Aetika-bisnis&catid=50%3Ahukum-dan-etika-bisnis&Itemid=78&limitstart=1
- http://ennoasriani.wordpress.com/2012/11/05/etika-ulitialisme-tugas-kelompok-etika-bisnis/
- http://rosiaprillino.wordpress.com/2013/01/13/contoh-pelanggaran-etika-bisnis/